Selama beberapa dasawarsa, Kabupaten Berau di Kalimantan Timur mengandalkan pertambangan sebagai penggerak ekonomi. Sedangkan untuk masa depannya, pemerintah telah menyatakan akan bergan- tung pada budidaya, ketimbang ekstraksi sumber daya alam. Kelapa sawit memiliki potensi yang kuat dalam hal ini. Selama enam tahun terakhir, total area penana- man kelapa sawit di Berau telah meningkat secara sig- nifikan, dari 40.000 hingga 120.000 hektar, dan tanaman kelapa sawit saat ini mendominasi lebih dari 70% lahan pertanian di Berau. Selain itu, perusahaan kelapa sawit telah tumbuh dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dari 3.000 pada tahun 2012 menjadi 21.000 orang pada tahun 2014 (Disbun Berau 2016). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pemerintah Berau memandang pengembangan kelapa sawit sebagai komoditas penting. Namun, Berau ingin melakukan lebih dari sekadar membangun ekonomi pertanian, mereka bercita-cita melakukannya dengan cara menjaga sumber daya alam untuk generasi yang akan datang, yang berarti bahwa pemerintah harus melakukan per- timbangan yang cermat. Studi ini adalah yang pertama dalam rangkaian kajian tentang kelapa sawit rendah emisi sebagai bagian dari program yang dipimpin oleh The Nature Conservancy, didanai oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Energi Nuklir Jerman (BMU), dan diimplementasikan bersama oleh GIZ dan CPI. Analisis CPI ini berkontribusi terhadap tujuan pemerintah Berau membangun perkebunan berkelanjutan dengan meme- takan rantai pasokan minyak sawit di Berau. Dari hulu ke hilir rantai pasokan, kami mengkaji efisiensi penggunaan lahan kelapa sawit berdasarkan hasil per hektar, tingkat penyerapan bahan baku ke pabrik pengo- lahan, serta keterjangkauan pabrik dari kebun. Kami juga menyoroti beberapa peluang untuk meningkatkan produkti- vitas dan efisiensi kelapa sawit yang dapat dilakukan sambil memastikan keberlanjutan aset alam di Berau. Temuan kami meliputi:
  1. Berau dapat mencapai tingkat produksi optimal dan memenuhi kebutuhan kapasitas pabrik tanpa harus banyak ekspansi lahan
Luas perkebunan kelapa sawit di Berau pada tahun 2016 mencapai 120.000 ha, atau sekitar 1% dari total luas perkebunan sawit di Indonesia dan 10% dari total luas perkebunan sawit di Kalimantan Timur. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) pada tahun yang sama mencapai 1,2 juta ton atau setara dengan 11% dari total produksi TBS di Kalimantan Timur (Disbun Kaltim 2017, BPS 2016). Sekitar 74% dari perkebunan sawit di Berau dikelola oleh perusahaan perkebunan sawit, dan berkontribusi sebesar 88% dari total produksi TBS di Berau pada tahun 2016 (Disbun Kaltim, 2017). Ada tujuh pabrik kelapa sawit di Berau yang dimiliki oleh empat kelom- pok perusahaan perkebunan. Seluruhnya memiliki total kapasitas pemrosesan gabungan sebesar 2,8 juta ton TBS per tahun, tetapi saat ini hanya beroperasi pada kapasitas 44%. Berau memproduksi kelapa sawit di bawah tingkat potensinya karena beberapa alasan, antara lain:
  • sebagian besar tanaman berusia antara empat hingga sembilan tahun, sedangkan produktivitas puncak dimulai setelah tujuh tahun;
  • dari total kawasan yang memiliki izin dan dimiliki oleh perkebunan perusahaan, hanya sekitar 41% yang telah ditanami.
Berdasarkan perkiraan kami, jika Berau hanya mengandalkan tanaman yang mencapai usia puncak dan berharap semua wilayah konsesi menjadi produktif, Berau akan mencapai tingkat produksi yang cukup untuk memenuhi kapasitas pabrik hingga 2,8 juta ton pada tahun 2023. Namun, kawasan konsesi kelapa sawit dengan nilai konser- vasi rendah di Berau hanya tersisa 33.000 ha yang belum ditanami.
undefined

Gambar I. Estimasi tingkat deforestasi yang dapat dihindari apabila peningkatan produktivitas dilakukan

Hal tersebut berarti tidak tersedia lahan yang cukup untuk perluasan, dan jika tidak didukung oleh bunan yang baik, dorongan untuk mempertahankan per- tumbuhan kelapa sawit akan mengancam pembatasan penggunaan lahan yang ada. Dalam studi ini, kami membuat estimasi mengenai potensi produksi TBS dari tanaman yang saat ini pro- duktif di Berau menggunakan dua skenario: skenario produksi berkelanjutan dan skenario bisnis seperti biasa (business as usual). Skenario business as usual memperkirakan potensi pro- duksi TBS yang dicapai melalui ekspansi lahan. Skenario produksi yang berkelanjutan mengukur potensi produksi optimal dari pohon kelapa sawit dengan menerapkan pendekatan produksi berkelanjutan (IFC, 2013), tanpa memperluas kawasan perkebunan di luar kawasan yang telah memasuki usia produksi dan saat ini sedang dikembangkan. Berdasarkan perhitungan kami, Berau dapat meng- hasilkan lebih dari 2,8 juta ton TBS per tahun pada tahun 2021 dengan praktik pertanian baik (good agri- cultural practices) yang difokuskan pada peningkatan hasil, bahkan hanya dengan 90% tingkat produktivitas optimal. Di sisi lain, di bawah skenario business as usual, produksi masih akan gagal mencapai 100% tingkat optimal selama kurun waktu yang sama. Ini menyirat- kan bahwa ekspansi perkebunan yang lebih meluas tidak diperlukan karena konsesi yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi Berau.
  1. Perkebunan dan pabrik kelapa sawit tersebar merata di seluruh Berau, tetapi sebagian besar minyak kelapa sawit (crude palm oil atau CPO) yang keluar dari Kalimantan Timur merupakan minyak sawit mentah yang tidak dimurnikan
Studi ini memetakan, untuk pertama kalinya, aliran produk kelapa sawit di Berau, dari perkebunan ke kilang pemurnian kelapa sawit. Dari 12 kecamatan di Berau, dalam 10 di antaranya terdapat perkebunan kelapa sawit. Pasokan TBS terbesar berasal dari Kelay dan Segah, yang menghasilkan 56% dari total produksi di barat laut Berau. undefined Gambar II. Aliran produk minyak sawit dari perkebunan di kecamatan-kecamatan Berau ke kilang-kilang minyak Ada delapan pabrik di Berau, tujuh di antaranya sudah beroperasi per 2017. Perkebunan yang dimiliki oleh perusahaan swasta di Berau biasanya diintegrasikan ke pabrik mereka sendiri, dibangun di lokasi yang dekat dengan perkebunan. Perkebunan yang dikelola peru- sahaan ini secara efisien mengatur kontrak pasokan mereka untuk terhubung dengan pembeli terdekat yang tersedia. Tidak ada kilang pemurnian CPO di Berau. Karena itu, CPO dari pabrik Berau dikirim ke delapan kilang pemurnian minyak di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia, dan yang terdekat terletak di Balikpapan, Kalimantan Timur. Meskipun ada tiga kilang pemurnian di Kalimantan Timur, Berau hanya memasok sejumlah CPO ke dua di antaranya, yaitu PT Kutai Refinery Nusantara dan PT Wilmar Nabati. Sedangkan sebagian besar CPO dari Berau dikirim ke Sulawesi Utara dan Sabah, Malaysia. Gambar III. Aliran TBS yang diproduksi perusahaan ke pabrik Garis biru menunjukkan pengangkutan TBS dari perkebunan perusahaan yang tidak berafiliasi dengan PKS tujuan
  1. Beberapa perkebunan milik perusahaan terletak secara efisien di sepanjang rantai pasokan, tetapi petani kecil menghadapi tantangan
Transportasi dari perkebunan milik perusahaan ke pabrik kelapa sawit efisien. Dari penelitian lapangan kami, ditemukan bahwa perkebunan perusahaan di Berau biasanya dibangun di dekat perkebunan dan diinte- grasikan ke dalam pabrik yang mereka operasikan sendiri. Peta ini menunjukkan bahwa perkebunan yang dikelola oleh perusahaan telah secara efisien mengatur kontrak pasokan mereka untuk terhubung dengan pembeli terdekat yang tersedia. Gambar IV. Aliran TBS yang dihasilkan petani kecil ke pabrik undefined Garis biru menunjukkan pengangkutan TBS dari perkebunan perusahaan yang tidak berafiliasi dengan kelompok tujuan. Ketika memband- ingkan rute rantai pasokan yang digu- nakan oleh perke- bunan perusahaan dengan rute rantai pasok petani kecil, jelas bahwa beber- apa petani mandiri tidak memasok TBS ke pabrik terdekat yang tersedia karena mereka tidak dapat memenuhi standar tertentu yang diber- lakukan oleh pabrik tersebut. Setidaknya ada tiga desa di bagian tenggara Berau yang memasok TBS hanya ke pabrik yang sebet- ulnya lokasinya jauh dari perkebunan mereka (lebih dari jarak rata-rata 30km), meskipun ada pabrik yang lebih dekat. Hambatan operasional membatasi efisiensi petani kecil Tiga desa tersebut adalah Biatan Bapinang, Biatan Lempake, dan Dumaring. Mereka hanya memasok ke PT. Tanjung Buyu Perkasa yang berjarak antara 40-70 km dari desa mereka, bukan ke PT. Dwiwira Lestari Jaya, yang berjarak antara 8-20 km jarak dari perkebunan. Selain itu, ada dua desa yang memasok TBS ke pabrik terdekat dan ke pabrik lebih jauh, Batu Putih dan Sukan Tengah. Para petani kecil di desa Batu Putih memasok ke pabrik terdekat yaitu PT. Jabontara Eka Karsa, yang berlokasi di kecamatan tersebut, dan ke pabrik yang lebih jauh yaitu PT. Pabrik Dwiwira Lestari Jaya, melalui dua kecamatan, dengan perkiraan jarak 75 km. Pemasok dari Sukan Tengah memiliki rute pasokan TBS terpan- jang yang kami temui di Berau, memasok ke PT. Dwiwira Lestari Jaya, melalui tiga kecamatan dengan perkiraan jarak 137 km. Dalam beberapa kasus, koperasi memiliki perjanjian dengan pabrik yang lebih jauh, tetapi tidak memiliki per- janjian dengan pabrik terdekat. Di desa Biatan Lempake dan Dumaring, koperasi di desa masing-masing memiliki perjanjian dengan pabrik PT. Tanjung Buyung Perkasa, tetapi tidak memiliki perjanjian dengan pabrik PT. Dwiwira Lestari Jaya, yang sebenarnya lebih dekat. Jarak transportasi merupakan faktor yang signifikan dalam produktivitas dan pendapatan petani kecil, karena kualitas TBS menurun dalam dua hari setelah panen, dan biaya transportasi juga akan meningkat ketika jarak transportasi meningkat. Rute pasokan beberapa petani kecil tidak efisien. Dalam kondisi pasar yang optimal, pelaku bisnis akan memilih metode penjualan yang paling efisien dan hemat biaya kepada pembeli. Temuan ini menunjukkan bahwa ada beberapa tantangan yang menghambat efisiensi di tingkat petani kecil.
  1. Rekomendasi dan tindak lanjut
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, tim peneliti merekomendasikan kajian dan kegiatan lebih lanjut yang berfokus pada:
  1. Mengidentifikasi strategi bagi Berau untuk mencapai tingkat produksi optimal dalam konsesi produktif yang ada.
  2. Mendukung upaya daerah untuk memetakan petani kecil, dalam rangka menciptakan koperasi fungsional dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di lokasi-lokasi strategis di seluruh kabupaten, dan untuk menyediakan pembiayaan alternatif sehingga petani kecil dapat mengakses modal operasional.
  3. Memetakan tanaman pertanian potensial lainnya, selain kelapa sawit, di tingkat desa, untuk memberi para petani kecil sumber pendapatan alternatif dan untuk memperkuat ekonomi desa dengan melalui diversifikasi.
  4. Menganalisis kebutuhan dan pertimbangan bisnis untuk pembangunan kilang pemurnian CPO di Berau, dan berbagai tantangannya.
Pada fase berikutnya dari studi ini, CPI akan melakukan pengamatan yang lebih mendalam mendalam ke dua desa terpilih, untuk memetakan dan meneliti petani kecil secara lebih terperinci, dan untuk mendapatkan profil kapasitas keuangan petani kecil. Ini kemudian akan dikembangkan menjadi model untuk meningkatkan akses keuangan para petani kecil.
up
Penggunaan cookie: Kami menggunakan cookie untuk mempersonalisasi konten dengan bahasa pilihan dan untuk menganalisis lalu lintas kami. Silakan lihat kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.